
fokuseditor BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mewajibkan manajemen PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB) mencetak laba bersih sebesar Rp2,2 triliun pada tahun 2026 ini.
Dedi juga mengindikasikan hal itu akan jadi tolok ukur utama bagi Plt Direktur Utama BJB Ayi Subarna untuk dikukuhkan sebagai pejabat definitif.
“Sudah tidak bisa ditawar lagi, angka keuntungan harus mencapai Rp2,2 triliun, jika ingin menjadi dirut,” kata Dedi dalam keterangan di Bandung, Sabtu.
Target ambisius itu, dipatok Dedi demi mengamankan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dengan laba sebesar itu, ia mengatakan BJB diproyeksikan mampu menyetorkan dividen ke kas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat hingga Rp400 miliar.
Tantangan tersebut dinilai realistis oleh otoritas pengawas perbankan. Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Darwisman mengatakan bahwa untuk mencapai setoran dividen Rp400 miliar, bank pelat merah tersebut harus mencatatkan laba bersih di atas Rp2,2 triliun.
Darwisman mengaku optimistis target itu bisa dikejar, mengingat rekam jejak bank BJB pada 2023 yang sempat menyentuh laba Rp1,8 triliun.
“Jika kredit dapat tumbuh hingga 12 persen dan mampu melakukan efisiensi hingga Rp1,4 triliun, maka laba BJB diprediksi dapat mencapai Rp2,58 triliun,” ujar dia.
Ia juga menekankan pentingnya efisiensi tajam dan pengawasan ketat untuk mencegah kecurangan (fraud).
Guna memuluskan target tersebut, Dedi tidak membiarkan bank BJB berjalan sendiri. Ia mengatakan akan membuka akses langsung ke ekosistem investasi Jawa Barat yang pada tahun 2025 tercatat mencapai Rp298,6 triliun, serta proyek infrastruktur 2026 yang nilainya lebih dari Rp7 triliun.
Dedi menyodorkan skema bisnis konkret dengan memanfaatkan masuknya investor asing.
“Ada pengusaha dari China ingin membuka pabrik di Jabar, saya tawarkan 3.000 pekerja terampil, nanti mereka harus menabung di BJB,” ucap Dedi.
Namun, Dedi memberi catatan tebal terkait infrastruktur teknologi. Ia memperingatkan agar divisi IT BJB berbenah total.
“Jangan sampai transaksi elektronik ‘lemot‘, ATM ‘lemot‘,” kata Dedi.
Menanggapi tantangan tersebut, Plt Dirut BJB Ayi Subarna, sambil melaporkan posisi kinerja perseroan hingga 31 Desember 2025 yang mencatatkan laba bersih Rp1,09 triliun dengan total aset mencapai Rp181 triliun, mengatakan kesiapannya mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dengan tetap memegang prinsip kehati-hatian. (***)
Editor : Admin
