
Kredit Foto: Biro Adpim Setda Pemdaprov Jabar
fokuseditor Jakarta – Aksi demonstrasi terkait kerusakan Jalan Badami-Loji di Kabupaten Karawang yang dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyisakan polemik. Mahasiswa yang sempat melontarkan teriakan kepada Dedi kini memberikan klarifikasi atas peristiwa yang viral tersebut.
Mahasiswa bernama Beryl Geovanni Xenoglosi mengaku sebagai sosok yang mengkritik langsung Dedi Mulyadi dalam aksi yang berlangsung di depan DPRD Karawang pada 14 September 2026.
Alih-alih meminta maaf atas aksinya, Beryl justru menyatakan penyesalan karena merasa kritik yang disampaikannya saat itu belum cukup keras.
“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan, saya menyesal karena tidak mengkritik KDM lebih keras lagi,” ujar Beryl, dikutip Kamis (17/9).
Menurut Beryl, kehadiran Dedi dalam aksi unjuk rasa tersebut tidak menghasilkan komitmen konkret terhadap tuntutan massa. Ia menilai gubernur hanya menyampaikan janji-janji tanpa memberikan tindak lanjut yang jelas.
Beryl bahkan menuding kehadiran Dedi lebih berorientasi pada pencitraan dibanding upaya menyelesaikan persoalan yang sedang diprotes mahasiswa dan warga.
“Karena bagi saya KDM datang poada aksi tersebut hanya untuk cari panggung, ketika kamera menyoroti ia menjanjikan banyak hal, menjanjikan menyelesaikan, namun ketika tuntutan dibuat untuk ditandatangani KDM justru kabur dan hilang entah kemana,” ujarnya.
“Karena KDM berulang kali hanya cari panggung dan hanya hadir, tapi banyaknya masalah itu tidak terselesaikan,” lanjutnya.
Beryl turut melontarkan pertanyaan terkait dugaan penggunaan buzzer untuk mendukung citra Dedi Mulyadi di media sosial.
“Saya punya satu pertanyaan untuk bapak sia, yaitu berapa anggaran buzzer yang dikeluarkan oleh KDM,” ucapnya.
Di sisi lain, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kerusakan Jalan Badami-Loji merupakan persoalan lama yang sudah mulai ditangani pemerintah daerah sejak dirinya menjabat.
“Rusaknya jalan sudah sangat lama mungkin tahunan ke belakang. Semenjak saya memimpin itu langsung kami perbaiki,” kata Dedi.
Menurut Dedi, Pemprov Jawa Barat telah mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki ruas jalan tersebut, baik melalui dana Inpres Jalan Daerah maupun anggaran provinsi dengan nilai Rp 17 miliar.
“Kedua di tahun ini kami sudah mengalokasi anggaran dan sedang dilakukan pembangunan. Satu bersumber dari dana Inpres jalan daerah nilainya Rp 48 miliar,” katanya.
Namun, ia menilai perbaikan jalan tidak akan bertahan lama apabila kendaraan bertonase besar, khususnya truk pengangkut semen, terus melintas melebihi batas kapasitas jalan.
Dedi menyebut persoalan itu harus diselesaikan secara menyeluruh agar anggaran ratusan miliar rupiah yang digelontorkan untuk pembangunan jalan tidak terbuang sia-sia akibat kerusakan yang terus berulang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya Dikutip dari WARTAEKONOMI.CO.ID (17 September 2026)
