
fokuseditor SUKABUMI – Keterbatasan fisik bukan menjadi halangan bagi Andreas (18) dan kakak kandungnya, Salaswati (27), dua bersaudara penyandang disabilitas asal Kampung Cipuntang, Desa Talaga, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di tengah keterbatasan ekonomi, keduanya terus konsisten mengembangkan bakat dan kreativitas di bidang seni lukis serta sastra.
Andreas, yang akrab disapa Aye, memiliki talenta kuat dalam melukis menggunakan pensil warna. Sementara sang kakak, Salas, mahir merangkai syair dan puisi. Keduanya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana, namun penuh keharmonisan serta mendapat dukungan hangat dari warga sekitar.
Saat ini, Andreas tercatat sebagai siswa kelas XI di salah satu Madrasah Aliyah setempat. Ia mengaku telah menekuni hobi melukis sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Di rumahnya, berjajar sejumlah karya lukisannya yang rapi, mulai dari karakter film hingga berbagai tokoh publik.
Salah satu figur yang sangat diidolakannya adalah mantan Bupati Purwakarta sekaligus tokoh masyarakat Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Andreas bahkan telah menyiapkan satu lukisan khusus wajah Dedi Mulyadi yang disimpannya dengan baik. Ia memendam harapan besar untuk bisa bertemu langsung dan menyerahkan karya tersebut kepada sang idola.
“Saya ingin bertemu Kang Dedi Mulyadi dan memberikan lukisan ini secara langsung,” ujar Andreas saat ditemui di kediamannya, Kamis (1/10/2026).
Selain melukis, Andreas memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Melalui kombinasi pendidikan pesantren dan Madrasah Aliyah yang tengah ditempuhnya, ia berharap dapat mengubah masa depan dan mengangkat derajat perekonomian keluarganya.
Bak gayung bersambut, sang kakak, Salaswati, juga mendedikasikan salah satu karya puisi terbaiknya yang berjudul “Pantang Menyerah” khusus untuk dipersembahkan kepada Dedi Mulyadi.
Ibu kandung mereka, Enen, menceritakan bahwa Andreas lahir dalam kondisi sehat. Namun, saat masih balita, Andreas mengalami demam tinggi. Keterbatasan biaya dan ketiadaan jaminan kesehatan BPJS kala itu membuat pengobatan Andreas terhenti di tengah jalan, hingga berdampak pada kondisi fisiknya saat ini.
Meski menghadapi ujian berat, Enen mengaku keluarganya tetap bersyukur dan saling menguatkan. Ia berharap kisah kedua anaknya dapat terdengar oleh Dedi Mulyadi, sehingga impian mereka untuk menyerahkan lukisan dan puisi secara langsung bisa segera terwujud.
Di sisi lain, Enen juga menaruh harapan besar kepada pemerintah agar keluarganya bisa mendapatkan perhatian melalui program bantuan sosial, seperti bantuan pangan atau Program Keluarga Harapan (PKH).
Pasalnya, selama ini keluarga mereka belum pernah menerima bantuan sosial tersebut. Bagi Andreas dan Salaswati, keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkreasi.
Melalui goresan pensil warna dan bait-bait puisi, mereka membuktikan bahwa semangat belajar dan meraih cita-cita akan tetap tumbuh melampaui segala keterbatasan fisik maupun ekonomi. (Red)
Sumber : Demokratis.net
